Peradaban Buku
Artikel

Nikmat Konsepsional di Bawah Naungan Al-Qur’an

“Hidup di bawah naungan Al-Qur’an adalah nikmat. Nikmat yang hanya dirasakan oleh orang yang pernah menghayatinya.”

Kalimat pembuka yang ikonik di atas adalah paragraf awal dari Mukadimah kitab Fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Qutb. Mukadimah tafsirnya ini disebutnya sebagai beberapa renungan (khawathir) dan kesan (inthiba'at) dari periode kehidupannya untuk hidup di bawah naungan Al-Qur’an.

Seperti apa gambaran nikmat itu ? Apa bentuk nikmat yang ingin digambarkan oleh Sayyid Qutb itu ? Apa komponen-komponen pembentuk nikmat itu ?

Penghayatan Atas Nikmat

Sayyid Qutb sering menyebutkan sifat yang dapat dilekatkan pada nikmat itu sebagai nikmat yang menyucikan dan memberkati hidup. Beliau juga menyifati nikmat itu bersifat memuliakan dan menghormati diri manusia. Sayyid Qutb memberikan satu ilustrasi terkait penghayatannya kenikmatan itu, “Aku dengar Allah subhanahu berbicara kepadaku melalui Al-Qur’an ini, padahal aku hanya seorang hamba yang kecil dan kerdil …”

Setelah beberapa paragraf awal, di mana beliau menjelaskan kesan yang dia alami dalam menjalani hidup di bawah naungan Al-Qur’an, Sayyid Qutb membahas mengenai konsepsi (tashawwur) terhadap wujud dan metode (manhaj) kehidupan sesuai dengan konsepsi itu. Pembahasannya seringkali didahului oleh ungkapan yang serupa di awalnya, “Di bawah naungan Al-Qur’an, .. aku memandang .. aku merenungkan .. aku merasakan .. aku melihat.. aku belajar.. tampak jelas .. meyakini …”.

Tampak di sini bahwa penghayatan nikmat di bawah naungan Al-Qur’an bagi Sayyid Qutb terletak pada proses yang dijalani serta hasil dari proses itu, yaitu kesadaran terhadap konsepsi atas wujud dan metode kehidupan yang menurutnya sempurna, lengkap, unik dan harmoni sebagaimana dipaparkan oleh Al-Qur’an. Proses penghayatan hidup di bawah naungan Al-Qur’an bisa kita sebut bersifat emosional, sedangkan kesadaran atas konsepsi dan metode hidup bersifat intelektual.

Rekonstruksi Atas Konsepsi Wujud dan Metode Kehidupan Islam

Bentuk nikmat yang diacu oleh Sayyid Qutb ketika memulai pembahasannya adalah terkait dengan konsepsi atas wujud atau pandangan alam (worldview atau Weltanschauung). Sayyid Qutb sendiri menyebutnya sebagai tashawwur, yang seakar kata juga dengan kata tashwir yang menjadi basis metodologi penghayatannya terhadap Al-Qur’an.b1e710f571a7cf76.webp

Seperti apakah isi konsepsi atas wujud (eksistensi) ini, bagaimana kemudian ia berkorelasi dengan metode kehidupan (ungkapan yang digunakan Sayyid Qutb adalah manhaj ilahi), akan coba direkonstruksi dalam tiga bagian pembahasan berikut ini. Pembagian menjadi tiga di sini mengikuti alur yang digunakan Sayyid Qutb dalam menulis mukadimah tafsir ini, yang terdiri dari tiga bagian (penggal) serta satu paragraf penutup.

I

Konsepsi atas wujud atau worldview yang disadari Sayyid Qutb dalam perjalanannya hidup di bawah naungan Al-Qur’an sebenarnya adalah konsepsi Islam itu sendiri. Konsepsi yang sering dikontraskan oleh Sayyid Qutb dengan konsepsi jahiliyah, yang disifatinya sebagai konsepsi atau pandangan kanak-kanak dibandingkan dengan konsepsi Islam. Secara emosional, bagi Sayyid Qutb, konsepsi Islam ini yang memberi kepuasaan, kegembiraan sekaligus kepercayaan diri. Seperti apa konsepsi Islam atas wujud ini ?

Dalam konsepsi yang telah dipelajari oleh Sayyid Qutb dari Al-Qur’an adalah bahwa wujud alam ini melebihi dari apa yang kita cerap secara inderawi saja (realitas empiris), tetapi ada wujud gaib dan wujud syahadah (empiris). Hidup di dunia ini tidak akan berakhir begitu saja, ada kontinuitas dalam perjalanan kehidupan, kehidupan dunia akan berlanjut ke kehidupan akhirat.

Dalam konteks kehidupan di dunia ini, manusia dalam pandangan Al-Qur’an adalah makhluk mulia, lebih mulia dibanding pandangan ideologi lain, karena ia adalah makhluk dengan tiupan ruh ilahiah. Melalui tiupan ruh ilahiah itulah manusia menjadi khalifah Allah di bumi. Sementara bumi sebagai pentas kekhalifahan manusia, memiliki sifat yang peka,bersahabat, tanggap dan ditundukkan bagi manusia.

Selain posisi kemulian dan ketinggian ini, manusia juga diberkahi oleh ikatan bagi kehidupan dan komunitasnya, yaitu ikatan akidah. Qutb menggambarkan, akidah itulah yang menjadi dasar tanah air, kebangsaan dan kesatuannya.

Dalam ikatan akaidah ini, mereka yang beriman memiliki genealogi (silsilah) yang mulia sebagaimana terefleksi dalam sejarah kehidupan dan perjuangan dakwah para Nabi dan Rasul, yang berkesinambungan. Kafilah ini juga berbagi seruan, tematik, problematika, tantangan, tribulasi serta hasil yang sama, walaupun pada waktu dan tempat yang berbeda.

II

Dalam konsepsi alam (kosmis) sebagaimana disebutkan di atas, sesuai penemuan Sayyid Qutb dalam refleksi hidupnya di bawah naungan Al-Qur’an, tidak ada faktor kebetulan dalam kejadian dan tidak ada pula peristiwa yang bersifat acak tanpa tujuan. Selalu ada tujuan dan hikmah di dalamnya. Selain tiadanya faktor kebetulan dalam tata kosmis ini, tidak ada kepastian absolut suatu sebab pasti akan menghasilkan akibat yang sudah kita perkirakan. Ada kehendak mutlak Tuhan yang menautkan sebab dengan akibat. Seorang mukmin mencari sebab, karena menjalankan perintah dan mengembalikan semua tautan hasil kepada Tuhan. Dalam konsepsi ini, bagi Sayyid Qutb, ada ketenangan ruhani dan kepuasan jiwa.c3995d69e2bb711d.webp

Wujud kosmis ini tidak dibiarkan berjalan secara mekanis, dengan hukum alam yang buta dan tuli. Di balik aturan dan hukum itu adalah kehendak Allah. Allah selalu bertindak. Selalu ada perbuatan Allah pada peristiwa-peristiwa alam dan sejarah. Sifat Allah selalu positif dan aktif. Sebagai manusia, kita tidak bisa mendesakkan atau memaksakan kemauan kita kepada-Nya. Allah mencipta alam ini dengan irama dan ritme terntentu. Manusia juga dicipta Allah dengan fitrah.

Pada titik ini Sayyid Qutb memulai pembahasan mengenai metode kehidupan yang Allah berikan kepada manusia. Sayyid Qutb menyebutnya sebagai metode ilahi (manhaj ilahi). Baik konsepsi maupun metode kehidupan sebenarnya ia adalah Islam itu sendiri.

Metode kehidupan dari Allah ini merupakan refleksi dari konsepsi Islam terhadap wujud ini. Bagi Sayyid Qutb, metode atau manhaj itu memiliki kompatibilitas dengan tata-aturan alamiah yang mengatur manusia (fitrah). Metode ini diturunkan untuk jangka panjang, penerapannya selaras dengan fitrah manusia, tidak dapat dipaksakan, dan dengan sabar metode ini menyertai fitrah dalam operasionalisasi (penerapan) metode ini dalam kehidupan.

Metode ilahiah ini bersumber pada kebenaran (haq). Kebenaran juga menjadi dasar bagi bangunan alam semesta. Penyimpangan dari yang haq akan memunculkan kerusakan dan kebinasaan.

III

Pada ujung refleksinya, Sayyid Qutb sampai pada kesimpulan, dengan keyakinan yang mantap, bahwa tidak ada kebaikan, kesempurnaan dan ketenangan hidup manusia kecuali dengan kembali kepada Allah. Kembali kepada Allah berarti mengembalikan seluruh gerak kehidupan kepada metode Ilahiah yang telah digariskan dalam kitab-Nya. Metode ilahiah itulah yang menjadi kunci bagi memecahkan problematika umat manusia.38d0f3713404cc2b.webp

Tetapi dari sejarah modern umat manusia, kita mendapati manusia telah menggeser pimpinan Islam atas kehidupan, setelah sebelumnya menikmati konsep, pandangan, nilai, aturan Islam secara nyata. Sayyid Qutb menyebut ini sebagai malapetaka dan bencana bagi kemanusiaan. Manusia di zaman modern ini, menurut Sayyid Qutb, telah kembali kepada pimpinan jahiliyah dalam peradaban materialis.

Mengenai penerapan metode kehidupan Islam di era modern ini, Sayyid Qutb memetakan dua responsi.

(1) Tanggapan dikotomis dan sinis. Bagi model tanggapan seperti ini, antara pilihan Islam dan kemajuan hidup material adalah dua kutub eksklusif yang mesti dipilih salah satu di antaranya dan tidak ruang mengompromikan keduanya. Menurut Sayyid Qutb, problem sebenarnya tidak seperti itu. Sayyid Qutb menyatakan metode ilahiah tidak memusuhi kemajuan manusia melalui inovasi dan penemuannya. Hal itu bahkan merupakan bagian dari peran kekhalifahannya. Metode ilahiah ini hanya menginginkan arahnya menuju ibadah kepada-Nya.

(2) Tanggapan dualistis. Menurut penyokong pendapat ini, nilai iman dan nilai material memiliki wilayah masing-masing, ada pemisahan atau pembidangan sendiri. Dalam keyakinan ini, hukum alam (sosial) akan tetap berjalan tanpa dipengaruhi oleh nilai-nilai iman. Sayyid Qutb mengkritik pendapat ini bahwa sunnah Allah di alam ini hakikatnya satu, tidak terbelah. Nilai iman adalah bagian dari sunnah Allah, sebagaimana hukum alam. Mereka saling terikat dan terkait. Kesuksesan yang dicapai melalui pendayagunaan nilai-nilai material (alamiah) tanpa diikuti oleh nilai iman, pada ujungnya adalah ilusi. Menurut Sayyid Qutb, kemunduran peradaban Islam terjadi justru setelah pemisahan nilai ini, sementara peradaban Barat menghadapi krisis karena memisahkan nilai iman dari kehidupan, ibarat burung yang hanya terbang dengan satu sayap saja (sayap nilai material).

Catatan Kritis

Setelah pemaparan isi atas mukadimah tafsir Fi Zhilalil Qur’an di atas, kini saatnya kita memberi beberapa catatan reflektif.

  1. Salah satu hal yang menarik untuk dicatat adalah terkait metode yang digunakan Sayyid Qutb dalam menuliskan renungannya di sini. Metode pelukisan artistik seperti yang dikonsepsikannya dalam karya-karya yang mendahului penulisan tafsir ini, misalnya At-Tashwir Al-Fanniy fil Qur'an, tampak mempengaruhi gaya penulisannya. Hal ini seperti ungkapan-ungkapan visual seperti “..aku melihat.., ..aku menyaksikan .. tampak jelas..” dsb. Demikian pula dengan penggunaan ilustrasi-ilustrasi konkret (misal mesin dan pabrik pembuatnya, atau burung dengan satu sayap yang patah) untuk mendekatkan imajinasi pembaca guna memahami konsep-konsep yang dibahas.
  2. Tujuan mukadimah ini, sebagaimana disampaikan Sayyid Qutb dalam bagian penutup, hanya untuk mencatat renungan dan kesannya mengenai pandangan alam (woldview) dan pandangan hidup Islam. Rekonstruksinya atas pandangan alam Islam ini berada pada level umum dan tidak detail. Seperti apa harmoni dan keseimbangan yang diamati di alam semesta ini, seperti apa fitrah manusia yang menolak percepatan, implikasi epistemologi seperti apa yang muncul dalam pandangan alam ini dan beragam pertanyaan-pertanyaan detail lain tidak terungkap dalam mukadimah ini, dan memang bukan tujuannya.
  3. Namun, pembicaraan Sayyid Qutb mengenai masalah kausalitas perlu dicermati. Beliau menyatakan bahwa keterkaitan antara sebab dengan akibat, dalam pengalaman manusiawi cenderung tidak memiliki kepastian. Demikian pula kaitan pasti bahwa sebuah premis akan menghasilkan konklusi yang sesuai harapan diri kita. Berdasarkan ilustrasi Sayyid Qutb ini kita harus berhati-hati dalam melakukan perampatan (generalisasi) sehingga mengambil kesimpulan untuk menolak kausalitas. Ketidakpastian keterkaitan antara sebab dan akibat memang ditemukan dalam konteks masalah sosial umat manusia. Dari sejarah pertumbuhan ilmu sosial modern kita belajar bagaimana membangun pengetahuan dengan epistemologi ketidapastian sepert ini. Tetapi bangunan ilmu alam dan rekayasa (teknik) saya kira bersandar penuh pada konsep kausalitas, demikian pula ia bersandar rasionalitas logika keterkaitan antara premis dan konklusi. Ada penemuan yang belum dijelaskan atau adanya nalar yang sesat, saya kira tidak meruntuhkan konsep kausalitas. Problem kausalitas sendiri merupakan problem metafisis (filosofis) yang sangat rumit dalam sejarah pemikiran filosofis manusia. Dalam konteks ini tidak mudah menjadikan argumen Sayyid Qutb mengenai kehendak mutlak Tuhan untuk membatalkan konsep kausalitas secara umum.
  4. Kita juga harus berhati-hati terhadap tendensi dikotomis dari pihak pendukung metode kehidupan Islam sendiri, sebagaimana adanya tendensi dikotomis (dan sinis) pengusung nilai kecukupan nalar manusia dalam menyelesaikan problem kehidupan. Jika Sayyid Qutb menggambarkan para pembela pendekatan dikotomis ini dengan ungkapan, “ Pilih salah satu Islam atau Akal ?”, maka tendensi dikotomis juga dapat muncul dari sisi lain dengan ungkapan, “Jalankan Islam totalitas dulu, baru bicara masalah-masalah yang timbul dan kemudia baru kita cari solusinya dari Islam, karena Islam saat ini tidak memunculkan masalah-masalah yang ada saat ini.” Dikotomi ini sejauh yang penulis pahami dapat ditemui dalam beberapa karya Sayyid Qutb yang lain, misal Inilah Dienul Islam (Hadz Ad-Dien). Jangan sampai pendukung metode kehidupan Islam jatuh pula pada dikotomi dengan melakuan penolakan terhadap temuan-temuan Ilmu Pengetahuan modern yang mungkin saja dalam konstruksi pandangan alam yang dielobarasi Sayyid Qutb ini belum dapat direkonsiliasikan, misalnya teori evolusi modern yang menjadi basis kemajuan bidang biologi dan genetika.

Sebagai penutup tulisan ini, kita dapat mencermati apa yang disampaikan oleh salah seorang peneliti pemikiran Sayyid Qutb, DR. Shalah Abdul Fattah Al-Khalidi, bahwa edisi Fi Zhilalil Qur’an yang populer saat ini sebenarnya adalah edisi revisi dari edisi pertama. Menurut beliau, dalam edisi revisi ini Sayyid Qutb menulis ulang sebagian juz-juz awal dari tafsirnya dengan inspirasi metodologi baru yang ditemukannya ketika menulis juz-juz terakhir selama di penjara rezim penguasa Mesir ketika itu. Apakah mukadimah ini merefleksikan metode baru itu ? Perlu penelitian lanjutan untuk menjawabnya secara positif.

Rujukan

Quthub, Saiyid. (1981). Seni penggambaran dalam Al-Qur'an (At-Tashwir al-Fanniy fil Qur'an) (Ch. Nasoetion, Penerj.).

Quthb, Sajid. (t.th.). Di bawah naungan Al-Qur'an: Tafsir populer & progresif (S. Bahreisj & M. Ali, Penerj.). Surabaya: Pustaka Progressif.

Quthub, Sayyid. (1982). Di bawah naungan Al-Qur'an. Dalam Hari esok untuk Islam: Bunga rampai da'wah Islamiyah (D. Kafie, Penerj.). Surabaya: PT Bina Ilmu.

Quthub, Sayyid. (1982). Di bawah naungan Al-Qur'an: Juz pertama (H. B. Arifin & J. Kafie, Penerj.). Cet. 1. Surabaya: PT Bina Ilmu.

Quthub, Sayyid. (1992). Tafsir Al-Qur'an Fi Zhilalil Qur'an: Juz 1 (R. Malik, Penerj.). Cet. 1. Kayu Tanam, Sumatra Barat: Yayasan Al Hidayang.

Qutub, Sayid. (1987). Inilah dinul islam (S. Suprayogi, Penerj.). Jakarta: Media Dakwah.

Quthb, Sayyid. (2000). Tafsir Fi-Zhilalil Qur'an: Di bawah naungan Al-Qur'an, Jilid 1 (A. R. S. Tamhid, Penerj.). Cet. 1. Jakarta: Rabbani Press.

Quthb, Sayyid. (2000). Tafsir Fi Zhilalil-Qur'an: Di bawah naungan Al-Qur'an (A. Yasin, dkk., Penerj.). Cet. 1. Jakarta: Gema Insani Press.

Qutb, Sayyid. (2003). In the shade of the Qur'an (Vol. 1) (A. Salahi, Trans.). Leicester: The Islamic Foundation.

Al-Khalidi, Shalah Abdul Fatah. (1995). Tafsir metodologi pergerakan di bawah naungan Al-Qur'an (Terjemahan). Cet. 1. Jakarta: Yayasan Bunga Karang.

Al-Khalidi, Shalah Abd al-Fattah. (1990). Sayyid Quṭub mengungkap Amerika. Surabaya: Sarana Ilmiah Press.

Qutb, Sayyid. (t.th.). Introduction to 'Fi Zilal al-Qur'an' (M. A. Salahi, Trans.). Diakses dari https://salaam.co.uk/introduction-to-fi-zilal-al-quran/

Qutb, Sayyid. (2012, 21 Juni). Teks mukadimah Fi Zhilalil Qur'an (versi bahasa Arab lengkap). Diakses dari https://tafsirzilal.wordpress.com/2012/06/21/arabic-language-complete-version/

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Komentar akan ditampilkan setelah dimoderasi.

Email tidak akan ditampilkan.