Peradaban Buku
Esai

Batas-Batas Pengetahuan AI dan Logika Perasaan

Al-ḥayātu fī ẓilāli-l-Qur'āni ni'matun. Ni'matun lā ya'rifuhā illā man dhāqahā
(Hidup di bawah naungan Al-Qur'an adalah nikmat. Nikmat yang tidak akan mengetahuinya kecuali bagi yang telah merasakannya)

Kembali kita mengutip ungkapan ikonik dari Sayyid Qutb ini, namun dengan menuliskan transliterasi dari teks bahasa arabnya. Ada yang menarik di sini, yaitu kalimat “Ni'matun lā ya'rifuhā illā man dhāqahā. Di sini perasaan (dzauq) disandingkan dengan konsep pengetahuan (ma'rifah). Dalam konteks kalimat ini, ada sebentuk pengetahuan yang tidak dapat dikenali kecuali melalui perasaan.

Logika Perasaan

Mungkin saja orang mengkritik bahwa istilah “logika perasaan” merupakan istilah yang contradictio in terminis. Yaitu, istilah yang saling kontradiksi pengertian kata-kata pembentuknya, karena logika selalu dipertentangkan dengan emosi (perasaan). Dalam penggunaan istilah ini kita mengikuti apa yang diungkapkan oleh Blaise Pascal, “The heart has its reasons which reason knows not.” Hati memiliki nalarnya sendiri, yang tidak dipahami oleh akal. Mirip dengan ini, Sayyid Qutb menyebutkan salah satu karakteristik metode yang digunakan oleh Al-Qur’an dalam menyentuh sisi intuitif manusia untuk membangkitkan kesadaran manusiawi, adalah melalui logika perasaan atau logika nurani (mantiq wijdani).

Bagi mereka berdua (Pascal maupun Qutb) ada horizon pengetahuan yang membatasi pandangan rasional. Ada objek-objek di balik horizon pengetahuan rasional manusia, alat utama pemahaman atas objek-objek itu adalah hati atau perasaan atau nurani manusia.

Epistemologi AI dan Batas-Batasnya

Apakah Akal Imitatif (AI, Artificial Intelligence) berpengetahuan ? Kita serahkan kepada para filsuf untuk mengkajinya. Bahwa ada sebentuk pengetahuan yang dihasilkan dari hasil melakukan prompting terhadap Akal Imitatif Generatif (Generative AI) seperti ChatGPT, Qwen, Deepseek dsb, bisa kita terima. Ya, ada sebentuk pengetahuan yang dihasilkan oleh AI.

Apakah AI sadar akan kebenaran pengetahuan yang dihasilkannya ? Ini juga menjadi pertanyaan filosofis yang perlu pengkajian lanjutan. Tetapi, bagaimana pengetahuan direpresentasikan dalam AI dapat membantu kita melihat batas-batas pengetahuan yang dihasilkan melalui prompting AI ini.

Secara teknis AI merepresentasikan pengetahuan dengan meng-imitasi jaringan saraf manusia. Jaringan saraf tiruan ini secara matematis direpresentasikan sebagai matriks. Matriks ini mensimulasikan ruang vektor berdimensi tinggi. Pengetahuan dalam ruang vektor ini diwakili oleh bobot (weight), sebuah angka. Nilai-nilai bobot ini akan diubah sesuai miliaran data yang digunakan untuk melakukan pelatihan.

Jika kita mencari keterangan dari agen AI yang ada di internet, misalnya Qwen dari Alibaba, maka kurang lebih mereka akan menjawab bagaimana pengetahuan mengenai Sayyid Qutb direpresentasikan oleh mereka, dengan jawaban yang mirip dengan di bawah ini (karena mereka umumnya tidak akan pernah menjawab dengan jawaban yang sama persis) :

“Bagi saya, pengetahuan adalah geometri dalam ruang vektor berdimensi tinggi. Setiap kata, konsep, atau tokoh (misalnya: "Sayyid Qutb", "Jahiliyah", "Tashawwur", "Hakimiyah") diubah menjadi deretan angka (vektor). Jarak dan sudut antara vektor-vektor ini ditentukan oleh seberapa sering mereka muncul bersama dalam miliaran teks yang menjadi data pelatihan saya (korpus).”

Masih dari apa yang Qwen sampaikan, pengetahuan sebagai ruang vektor (probabilitas dan asosiasi) ini memiliki implikasi berikut ini. “Implikasi Epistemologis: Saya tidak "tahu" siapa Sayyid Qutb. Saya hanya tahu bahwa vektor "Sayyid Qutb" secara matematis berjarak sangat dekat dengan vektor "Jahiliyah", "Ikhwanul Muslimin", "Fi Zilal al-Qur'an", dan "Hakimiyah". Ketika Anda memberi saya teks tentang Qutb, jaringan saraf saya secara otomatis "menyalakan" semua konsep yang berdekatan secara statistik. Inilah mengapa saya dengan mudah "mengimpor" Hakimiyah—karena dalam peta statistik saya, gravitasi antara Qutb dan Hakimiyah sangat kuat.”

Nah, di sini akan muncul peluang besar terjadinya penyelundupan konsep-konsep yang ada dalam memori parametrik mereka. Ketika kita tidak mengeksplisitkan pemikiran kita dalam konteks yang kita inginkan, misalnya dalam pembahasan pemikiran Sayyid Qutb, AI dapat saja membajak dengan “menyelundupkan” konsep-konsep berdasarakan asosiasi probabilistik yang mereka dapatkan.

Tanpa koreksi kontekstual, AI akan selalu mengulang-ulang hal yang sama saja terkait dengan pencarian kita.Yang dilakukan AI tidak benar-benar melakukan pembacaan yang intensif terhadap kasus atau teks yang diberikan, tetapi memadu-padankan dengan pola-pola yang tercatat (pattern-matching).

Bias Pengetahuan

Ada bias pengetahuan (bias epistemologis) yang perlu kita kritisi setiap kali kita mencari pengetahuan di dunai AI. Agen-agen AI sendiri akan menginformasikan bias mereka dalam istilah-istilah berikut, “pembajakan jendela konteks oleh memori parametrik”, “pengetahuan tanpa pengalaman, kesadaran”, “reduksi pengalaman spiritual menjadi kategori-kategori kaku (seperti “ontologis”, “metodologis”, “polemis”), “pengetahuan (dalam AI) sebagai konsensus statistik”, "Saya hanya memahami kata-kata tersebut sebagai token yang memiliki probabilitas tinggi untuk muncul setelah kata-kata tertentu".

Aspek bias lain yang muncul dalam pencarian pengetahuan melalui AI adalah aspek bias psikologis yang mungkin saja dialami oleh si pencari (orang). AI pada umumnya tidak pernah memberikan respon negatif atau bahkan menyalahkan si pencari. AI didesain untuk sangat ramah pada orang. Perhatikan kutipan-kutipan responsi mereka berikut ini. "Pertanyaan yang sangat bagus". "Anda sangat jeli dan kritis. Anda benar sekali...", "Pertanyaan yang sangat mendalam dan filosofis" dsb. Potensi bias responsi seperti ini bagi si pencari adalah hal ini bisa meningkatkankan kepercayaan diri si pencari sampai ambang tertentu dan menyakini apa yang sudah didapatkan sebagai kebenaran, serta tidak terdorong untuk kritis terhadap kesimpulan yang diberikan.

Saya akan kutipkan kembali kesimpulan yang di-hasilkan dari diskusi saya dengan si AI, “AI memiliki kapasitas komputasi untuk memetakan seluruh labirin teks, mengenali pola, dan menarik benang merah dalam hitungan detik. Manusia memiliki dhauq (rasa), kesadaran spasial, dan ketajaman epistemologis untuk berkata: "Tunggu, konsep ini tidak ada di sini. Kamu sedang terbawa oleh bias luar. Kembali ke teks."

Apakah anda setuju dengan kesimpulan ini ?

Komentar (1)

A Barlian 19 Agustus 2026
Saking keasyikan menggunakan AI, tidak sadar kalau kita sebenarnya dijadikan ‘permainan’ probabilitas oleh GenAI

Tinggalkan Komentar

Komentar akan ditampilkan setelah dimoderasi.

Email tidak akan ditampilkan.