Jauh sebelum penerbit Gema Insani Press (GIP) dan Robbani Press menerbitkan terjemahan Fi Zhilalil Qur’an mulai awal tahun 2000-an, pada tahun 1992 penerbit Al-Hidayah telah menerjemahkan juz 1 dari tafsir ini. Buku ini diterjemahkan oleh Rusjdi Malik. Pada awalnya, terjemahan tafsir zilal juz 1 diterbitkan dalam bentuk bulletin Jumat yang diedarkan di Bukittinggi, kemudian baru dibukukan.
Buku ini punya kisah sendiri dalam hidup saya. Ketika itu saya masih bersekolah SMP. Saya mendapatkan buku ini, dari guru mengaji saya di Musholla dekat rumah. Beliau membawa beberapa eksemplar, beliau dapatkan dari Pusat Dakwah Muhammadiyah di Menteng Jakarta, samping sekolah Kanisius.
Beberapa kali beliau membahas buku ini dalam pengajian, walaupun tidak sampai tuntas. Kami dulu membaca beberapa paragraf, kemudian beliau mengulas. Sempat pula saya mendapatkan beberapa lembar bulletin jumat yang menjadi cikal bakal buku ini dari beliau, kertas coklat. Saya juga pernah diajak ustadz untuk menagih infaq bulletin ini ke masjid di daerah Blok M. Lain waktu, bersama senior dalam pengajian menggelar lapak yang menjual buku ini di IKIP Jakarta Rawamangun (sekarang UNJ), beberapa buku kami bawa, tapi sayang tidak ada yang minat membeli. Karena saya sudah ada bukunya, kumpulan bulletin jumat itu saya hadiahkan kepada senior SMA saya dulu.
Mengenai penerjemah, Rusjdi Malik, saya menduganya beliau adalah putra dari Buya H. Malik Ahmad, salah satu tokoh Muhammadiyah. Dari beberapa literatur sejarah yang pernah saya baca, beliau (H. Malik Ahmad) adalah salah satu penolak azas tunggal Pancasila ketika itu. Buku-buku karangan Buya H. Malik Ahmad juga menjadi bacaan kami, remaja Mushola ketika itu. Salah satu yang sangay berkesan bagi saya adalah buku Shalat Membentuk Pribadi dan Masyarakat. Beliau juga mengarang beberapa jilid tafsir yang disusun berdasarkan tertib nuzulnya, Tafsir Sinar. Sayang buku tafsir Sinar yang saya miliki sekarang sudah raib.
Ternyata, terjemahan Al-Hidayah atas Tafsir Zhilal ini bukan terjemahan yang pertama dalam bahasa Indonesia. Pada masa awal-awal kuliah, selain menemukan terjemahan bahasa Inggris untuk juz 30-nya, In The Shade of The Qur’an, saya menemukan terjemahan dari Bey Arifin dan Jamaludin Kafie, terbitan Bina Ilmu tahun 1982. Selanjutnya BeyArifin dan Jamaludin Kafie juga menerjemahkan dan menerbitkan terjemahan juz ke-2 dan juz ke-30. Secara rasa bahasa, dibandingkan terjemahan Rusjdi Malik, terjemahan Bey Arifin dan Jamaludin Kafie ini menurut saya agak kalah jauh. Terjemahan Rusjdi Malik mudah dipahami, mengalir dan terasa indah.
Tahun 90 an juga terbit sebuah buku yang berisi terjemahan zhilal atas tiga surat, Al-Muzammil, Al-Mudatsir dan Muhammad. Jauh-jauh hari kemudian, baru saya tahu sebenarnya ini merupakan versi bahasa Indonesia dari terjemahan bahasa Melayu yang diterbitkan oleh ABIM Malaysia. Penerjemahnya ada Shidiq Fadil, salah satu tokoh ABIM.
Bagi peminat sejarah pemikiran maupun pecinta pustaka (bibliophile) internet salah satu tempat mencari pustaka langka yang efektif, walaupun kadang pustaka langka dihargai secara fantastis. Melalui internet kita dapat menemukan bahwa ternyata pada tahun 50-an, setidaknya juz ke-1 dan ke-2 Zhilal sudah diterjemahkan dengan judul “Dibawah Naungan AlQuran, Tafsir Populer & Progressif” oleh Salim Bahreisj dan Mohamad Ali. Sebelum era penerjemahan meledak tahun 2000-an, Salim Bahreisj sudah cukup terkenal dengan terjemahan kitab Riyadhus Shalihin yang diterbitkan oleh Al-Ma’arif Bandung. Sayangnya buku ini tidak mencantumkan tahun penerbitan, tetapi kita dapat mengira buku ini terbit sekitar tahun 1954-1955. Hal ini bisa diinferensi, selain berdasarkan ejaan yang digunakan, adalah adanya iklan brosur tentang umat Islam dan pemilu dalam bahasa Jawa. Pemilu yang diacu tentu saja adalah pemilu 1955, karena penulis brosur adalah K.H Isa Anshary, salah seorang tokoh Masjumi. Iklan brosur ini ada di bagian dalam halaman sampul belakang.
Mengacu pada penelitian para pengkaji pemikiran Sayyid Qutb, misalnya oleh DR. Shaleh Abdul Fatah Al-Khalidi, edisi Zhilal yang tersebar saat ini adalah Zhilal edisi revisi. Revisi dilakukan oleh Sayyid Qutb karena temuannya atas metode pergerakan (manhaj haraki) dalam Al-Qur’an sehingga ia menulis ulang Zhilal. Berarti apa yang diterjemahkan oleh Salim Bahreisj di atas adalah edisi pertama dari Zhilal ini. Jika dibandingkan terjemahan yang ada saat ini, mukadimahnya memang berbeda dengan mukadimah seperti yang kita bahasa dalam artikel-artikel pada blog ini. Metode penafsirannya juga agak berbeda, hal ini sekilas dari yang saya amati ketika membaca tafsir surat Al-Fatihah dan awal surat Al-Baqarah. Setidaknya kita menyimpan terjemahan edisi pertama, walaupun cuma dua juz, sebagai bahan pembanding. Mungkin edisi pertama dalam bahasa arab juga sulit untuk ditemukan.
DR. Shaleh Abdul Fatah Al-Khalidi seperti disampiakan di atas menyebutkan adanya dua edisi Zhilal, ini terkait erat dengan perbedaan metodologi penafsiran dalam dua edisi. Selain itu beliau juga menyebutkan bahwa Sayyid Qutb tidak sempat melakukan revisi secara menyeluruh. Ada beberapa juz tafsir (atau penafsiran surat) yang belum sempat direvisi. Tafsir juz atau surat-surat mana saja yang belum direvisi ? Sayangnya, penelusuran atas informasi ini dalam tulisan Al-Khalidi yang bisa kami akses dan pahami, belum membuahkan hasil.
Informasi mengenai hal ini yang justru didapatkan dalam pengantar terjemahan Zhilal dalam bahasa Inggris untuk juz pertama yang diterbitkan oleh Islamic Foundation, Ingggris, 1999. M. Manazir Ahsan dalam pengantarnya atas terjemahan Zhilal, In The Shade of The Qur’an Volume 1, mengatakan Sayyid Qutb telah melakukan revisi atas surat ke-33 s.d 114, serta surat 1 s.d 15. Sehingga tafsir atas surat 16 s.d 32 masih merupakan tafsir edisi pertama.
Satu pertanyaan unik yang mungkin muncul dalam benak kita adalah, apakah ada tokoh Indonesia yang memiliki persahabatan pribadi dengan Sayyid Qutb ? Kalau pengenalan secara pemikiran mungkin banyak tokoh yang bisa disebut.
Dalam buku 70 Tahun Prof. DR. H.M Rasjidi, disebutkan bahwa beliau (H.M Rasjidi) pernah menjadi murid privat Sayyid Qutb dalam rangka persiapan beliau masuk ke Darul Ulum. Sayyid Qutb, yang dalam buku itu disebut sebagai seorang sahabat, direkomendasikan oleh A. Kahar Muzakir. Beliau ini (A. Kahar Muzakir) adalah salah satu tokoh yang kelak menjadi anggota BPUPKI dan salah satu perancang Piagam Jakarta.
Komentar (0)
Tinggalkan Komentar
Komentar akan ditampilkan setelah dimoderasi.