Peradaban Buku
Esai

Akal Imajinatif di Era AI

Apakah pekerjaan manusia akan digantikan oleh AI ? Kekhawatiran itu memiliki latar fenomena yang faktual. Ambil contoh, programming. Kemampuan programming saat ini secara faktual sudah bisa diambil alih oleh AI. Pengurangan tenaga kerja programmer sudah di depan mata.

Walaupun tentu saja, jika kita telaah, justru AI memberikan peluang juga bagi programmer untuk menaikkan level kemampuan mereka dari hanya sekadar coding ke level yang lebih luas misalnya kemampuan untuk membangun spesifikasi, mendesain arsitektur solusi maupun kemampuan sebagai quality assurance (guna memastikan bahwa apa yang dibuat oleh AI sesuai dengan standar kualitas dan spesifikasi yang ditetapkan). Tiga keahlian (skill) ini yang dahulu ter-segregasi ke dalam tiga peran berbeda, sekarang perlu menyatu dalam satu peran. Mengutip salah satu buku teknis pemrograman dengan asistensi AI, bukan programmer yang akan hilang, tetapi programmer yang tidak memanfaatkan AI yang akan hilang.

Sekarang kita coba pindah ke konteks yang agak lebih umum. Bagaimana dengan belajar atau kuliah di era AI, apakah masih relevan ? Menjawab ini mungkin tidak mudah.

Mungkin kita bisa mulai dengan mengutip ucapan A.N Whitehead dalam The Aims of Education, "A merely well-informed man is the most useless bore on God’s earth." Kalau coba kita ungkapkan dalam bahasa Indonesia bisa seperti ini, "Orang yang hanya bisa mengepul (menimbun) informasi adalah orang yang paling membosankan dan tidak berguna di muka bumi." Jadi, relevansi belajar yang hanya mengepul atau menimbun informasi saja sudah lama disadari bukan arah pendidikan yang tepat.

Kita juga bisa mengutip konsep hierarkis pengetahuan berikut D-I-K-W, Data-Information-Knowledge-Wisdom. Dalam konteks era Big Data dan AI sekarang maka D-I maupun sebagian besar K dapat diotomasi dan dikerjakan oleh sistem informasi, sistem pengetahun (knowledge management system) dan juga AI (kecerdasan buatan atau akal imitasi). Tapi, sepertinya Wisdom (kebijaksanaan) masih merupakan kemampuan yang khas manusiawi.

Apakah kebijaksanaan itu ? Kebijaksanaan terkait dengan nilai-nilai. Kebijaksanaan terkait dengan kemampuan untuk menilai benar-salah, baik-buruk, tepat-keliru, penting-remeh, harus-boleh. Tampaknya kemampuan ini tetap merupakan kapasitas manusiawi kita. Dalam era AI saat ini kesadaran falsafi, sebagai refleksi cinta terhadap kebijaksanaan, menemukan kembali momentumnya untuk lebih disosialisasikan. Jadi, jika disederhanakan, kemampuan berpikir yang melampaui AI adalah kemampuan berfilsafat.

Mengutip kembali pendapat dari A.N Whitehead :

"The justification for a university is that it preserves the connection between knowledge and the zest of life, by uniting the young and the old in the imaginative consideration of learning. The university imparts information, but it imparts it imaginatively."
( Alasan penting adanya universitas adalah menjaga keterkaitan pengetahuan dengan semangat kehidupan, melalui penyatuan generasi muda dan tua dalam pemikiran penuh imajinasi dalam belajar. Universitas menyebarkan informasi, tetapi secara imajinatif.)

Dalam konteks kemampuan falsafi ini, salah satu kemampuan yang melampaui kecerdasan buatan atau akal imitasi, yang menjadi landasan kebijaksanaan kita, adalah imajinasi. Belajar (dalam level apa pun) harus dapat menumbuhkan imajinasi.

Apakah imajinasi itu ? Definisi formal tentang imajinasi, bahkan dalam konteks pemikiran Whitehead bisa kita tanyakan pada agen-agen Akal Imitasi (AI) semisal ChatGPT atau Qwen misalnya. Di sini saya akan mencoba mengkontekstualisasikan maknanya dengan istilah-istilah yang sering kita dengar disandingkan dengan kata imajinasi.

Mungkin kita pernah mendengar istilah sociological imagination, apa maknanya ? Untuk menangkap makna imajinasi sosiologis di sini sebuah ilustrasi bisa digunakan. Jika kita melihat banyak orang miskin kadang kita mengatribusikan sebab kemiskinannya pada level individu (dengan ungkapan itu salah dia sendiri atau dia yang malas berusaha). Tapi jika fenomena orang miskin begitu banyak, imajinasi sosiologis kita menolak sebab kemiskinan itu disebabkan oleh sebab psikologis (pribadi), ada sebab struktural yang perlu ditilik.

Ilustrasi lain (ini jenis imajinasi yang berbeda) saya pernah mendengar seorang anak SMP berkomentar setelah mendengar kisah perjalanan Kartini ke Jakarta (Batavia ketika itu) : kenapa Kartini ke Jakarta tidak naik pesawat saja biar cepat sampai. Ini adalah bentuk kegagalan menjalankan imajinasi historis/sejarah karena menilai situasi zaman Kartini dengan situasi zaman sekarang. Istilahnya ini kesalahan berfikir karena berfikir secara anakronistik.

Mereka yang berkuliah Ilmu Komputer belajar menyelesaikan masalah terkait dengan masalah pengembangan sistem informasi atau masalah matematik secara komputasional, algoritmik.

Kesimpulan dari apa yang disampaikan di atas adalah kurang lebih bahwa setiap disiplin ilmu dibentuk dengan kemampuan imajinasi yang berbeda-beda. Imajinasi menghasilkan kreasi baru. Imajinasi meluaskan perspektif nilai kita. Imajinasi juga meluaskan batas kemungkinan kita.

Apakah AI mampu berimajinasi melampaui data yang dipelajarinya ? Masih bisa diperdebatkan. Pada level yang lebih abstrak dan umum, imajinasi saya kira adalah celah pembebasan dari kemungkinan tirani teknologi (AI). Mungkin terdengar ironis setelah apa yang saya bicarakan di atas, karena saya tidak puas dengan template blog yang ada — lagi berbayar — saya mengembangkan blog ini dengan bantuan AI. Spesifikasi dibantu Qwen. Programming dibantu oleh Copilot. 😀

Komentar (1)

Abimanyu 1 Agustus 2026
Setuju. Menurut saya, semakin AI berkembang, semakin penting manusia mempelajari humaniora. Kemampuan teknis mungkin semakin mudah dibantu AI, tetapi kemampuan memahami manusia, nilai, dan konteks tetap menjadi pembeda utama.

Tinggalkan Komentar

Komentar akan ditampilkan setelah dimoderasi.

Email tidak akan ditampilkan.