Peradaban Buku
Resensi

Gramatika, Logika, Retorika: Jalan Menuju Pikiran Terdidik

Judul : The Well-Educated Mind, A Guide to the Classical Education You Never Had.
Pengarang : Susan Wise Bauer

Pendidikan diri kita tidak berhenti setelah kita lulus sekolah atau kuliah. Manusia harus bertumbuh dan berkembang, sedangkan problematika kehidupan juga semakin kompleks, maka belajar tidak boleh berhenti. Muatan informasi dan pengetahuan yang kita peroleh atau kita akumulasikan selama sekolah atau kuliah, mungkin kehilangan relevansinya saat kita berhadapan dengan realitas perubahan masa kini. Namun, alat belajar yang kita pelajari saat sekolah bisa membantu kita untuk swamandiri belajar dan meningkatkan diri. Apakah kita menguasai alat belajar itu setelah selesai kuliah? Di sinilah letak problematika kita pada umumnya: kita fokus pada isi pengetahuan, tetapi lupa mempelajari alat guna menyerap, memahami, menganalisis, menata, dan menghasilkan pengetahuan itu. Sehingga kadang kita selesai sekolah, tetapi mengalami kesulitan dalam memahami kompleksitas ilmu, teknologi, dan problem sosial-politik masa kini. Kita juga kurang percaya diri dalam mengartikulasikan gagasan kita sendiri, apalagi menantang gagasan orang lain.

f80dd38272719163.webp

Mengacu pada ceramah Dorothy L. Sayer berjudul The Lost Tools of Learning, penulis buku ini memaparkan alat-alat belajar yang terlupakan itu. Alat-alat belajar itu dikenal sebagai trivium dalam pendidikan klasik peradaban Barat, yaitu gramatika, logika, dan retorika. Trivium ini juga mengacu pada perkembangan intelektual kita sejak masa kanak-kanak hingga muda. Tahap gramatika (tata bahasa) mengacu pada tahap awal sekolah dasar, fokus pada absorbsi pengetahuan. Tahap logika (penalaran) mengacu pada tahap akhir sekolah dasar hingga selesai Sekolah Menengah Pertama. Ini tahap analitis dan pendalaman atas argumen. Tahap retorika adalah tahap kemampuan mengkritik dan mempresentasikan pikiran sendiri. Ini tahap Sekolah Menengah Atas.

Jika kita menelisik proses pendidikan tradisional di pesantren-pesantren di Indonesia, sebenarnya trivium ini cocok dengan pengajaran ilmu-ilmu alat bagi santri, yaitu nahwu (gramatika), mantiq (logika), dan balaghah (retorika). Ada paralelisme fokus pendidikan klasik Eropa dengan pendidikan tradisional pesantren di Indonesia.

Bagi kita yang beranjak atau sudah dewasa namun kurang percaya diri dengan kemampuan intelektual kita, trivium ini bisa menjadi model pengembangan kapasitas intelektual kita. Kita bisa mulai menata proses pengembangan intelektual kita melalui tahap-tahap penguasaan gramatika, kemudian logika, dan retorika. (1) Gramatika, fokus pada bagaimana kita menyerap ide. Tahap bagaimana kita bergulat dengan kata dan kalimat. Aspek "what" dalam mempelajari pengetahuan. (2) Logika, tahap kita menganalisis ide, memahami nilai benar salahnya sebuah ide. Aspek "why" dalam mempelajari pengetahuan. (3) Retorika, memberi kita kemampuan mengkritik ide kemudian menyampaikan kritik dan ide kita secara jelas. Aspek "so what" dalam mempelajari pengetahuan.

Penulis mengutip ungkapan dari Francis Bacon, "Beberapa buku layak dicicipi, yang lain layak untuk ditelan, dan hanya sedikit yang layak dikunyah dan dicerna." Gramatika mencicipi. Logika mengunyah dan menelan. Retorika mencerna.

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Komentar akan ditampilkan setelah dimoderasi.

Email tidak akan ditampilkan.